Harapan Seorang Sahabat
Mempunyai teman
memang menyenangkan apalagi kalau mempunyai seorang sahabat. Setiap hari selalu
bersama sambil menceritakan banyak hal yang dialami. Kadang bercerita tentang
sesuatu hal yang menyedihkan, tapi terkadang juga menceritakan hal yang
menyenangkan hingga membuat kami tertawa bersama. Seperti itulah hubungan persahabatan yang baru kami
alami selama kurang lebih 7 bulan. Walaupun
dengan waktu yang sesingkat itu tapi, persahabatan kami terasa seperti sudah
lama. Begitu hidup, hangat, akrab, dan dekat.
Namaku Kugy
Alisia . Saat ini aku baru duduk di kelas 1 SMP, aku
bersekolah di SMP Nusa. Sekolah yang menurutku menyimpan banyak kenangan yang
indah maupun kenangan yang buruk. Sekolah yang mempertemukan ku dengan seorang
sahabat, mengenalkan ku dengan perasaan
suka terhadap lawan jenis, dan mengenalkan ku bagaimana rasanya sakit hati. Tak
ada yang istimewa dariku. Aku hanyalah gadis biasa, bodoh, dan selalu bersikap
aneh.
****
Hari mingguuu!!!
Ya, hari ini
memang hari minggu. Hari dimana orang asyik bersantai-santai ria, tapi tidak
dengan ku. Aku berniat untuk menemui
Sekar di rumahnya, aku sadar aku sama sekali tidak tahu dimana Sekar
tinggal. Tapi, aku sudah berniat untuk menemuinya dan keputusanku sudah bulat!
Yang jelas Sekar hanya pernah bilang, kalau dia tinggal di dekat PLN.
Siang ini sangat
panas. Matahari seolah marah dan bersinar terang memancarkan cahayanya yang
sangat terik dan mencekik leher, bahkan mampu membuat kepala menjadi penat.
Para pejalan kaki sibuk berlalu lalang, begitu pun dengan kendaraan-kendaraan
yang menambah udara pada siang ini menjadi gerah, sempit, dan sesak.
Aku mondar-mandir
di depan PLN. Mencoba mencari rumah Sekar sahabatku. Sudah ada beberapa rumah
yang aku datangi tapi, tetap saja tidak ada yang tahu dimana rumah Sekar. Akhirnya aku berniat menanyakannya sekali lagi
pada salah satu rumah kayu yang berada didepan ku. Ketika sudah menanyakannya
kepada pemilik rumah, lagi-lagi aku tidak mendapatkan informasi yang bisa
membantuku menemukan rumah Sekar. Ketika aku hendak pamit keluar dari rumah itu
dengan sedikit berlari, aku tidak melihat tong sampah yang ada di sebelahku. Tak
disangka-sangka rok panjang ku nyangkut di kawat yang terpasang pada tong
sampah. Tidak dapat mempertahankan keseimbangan tubuhku, akhirnya aku jatuh dengan posisi tengkurap. Memalukan
sekali!! -_-Kejadiaanya terasa sangat cepat. Aku pun bangun sambil meringis
pelan dan mendapati tanganku yang sedikit lecet dan ujung rokku yang sobek.
Perasaan kesal, jengkel, marah, dan malu sedang berkecamuk di hatiku sekarang!!
Beruntung tidak ada yang melihatku, dalam hati aku hanya bisa berteriak “
Sekaaaarr!!! Awas yah kalo nanti kita ketemu,, bakalan tamat riwayat mu!!
Kenapa sih rumah mu susah banget dicari? Atau kamunya yang nggak terkenal !! Sehingga
nggak ada yang tahu orang yang namanya “ Sekar Ningrum ” huuh,,, sebeell!! ”
-__- dalam hati aku bergumam tidak jelas dan seketika mengusap keringatku yang
menetes jatuh di keningku.
Entah apa yang membawaku masuk ke dalam PLN. Aku hanya
mengikuti langkah kakiku. Saat masuk ke dalam PLN aku merasa sangat dekat
dengan rumah Sekar, walaupun itu hanya sekedar perasaan yang belum tentu benar.
Ku lihat sebuah warung makan atau lebih
mirip dengan kantin, yang terletak tidak
jauh dari tempat ku berdiri sekarang. Aku ingin menanyakan rumah Sekar pada
pemilik kantin itu tapi, entah apa yang membuat ku untuk mengurungkan niat,
mungkin karena kantin itu sedang ramai pengunjung. Aku kemuadian lebih memilih
bertanya pada rumah yang berada tepat disamping kantin itu.
“ assalamualaikum! ” ku ketuk pintu itu dengan
sangat hati-hati
“ walaikumsalam...cari siapa dek? ” kata
seorang perempuan yang masih muda
“ aku mau nanya! Mba tau nggak rumahnya Sekar
Ningrum? katanya dia tinggal di sekitar PLN ini”
“ Sekar Ningrum?
Adek cari temennya yah? Kalau disini sih emang ada anak yang seusia kamu, tapi
namanya bukan Sekar, namanya Rara ” kata mba itu sambil menunjuk rumah yang
berada tepat depannya. Rumah yang terdapat sangkar burung dengan beberapa
burung yang indah dan juga tertanam pohon kerseng yang sangat lebat sehingga
membuat suasana rumah itu menjadi rimbun.
“ ohh... gitu yah
mba? Ya sudah kalau gitu, saya permisi dulu! Makasih ” ucap ku sambil lalu melihat
rumah yang ditunjukkan mba itu.
Dengan langkah
gontai dan perasaan kecewa, aku pamit pulang sambil sesekali mengusap keringat yang
menetes di pipiku, mengingat matahari pada siang ini sangat terik. Aku sudah
nyerah mencari rumah Sekar. Aku pun keluar dari PLN mencari ojek untuk pulang
ke rumah. aku sama sekali sudah tidak memikirkan masalah buku yang ingin ku
pinjam. Yang ku pikirkan hanyalah pulang ke rumah!
****
Di kantin sekolah...
“ Sekaaaaarrr !!!
Sumpah! Rumahmu susah banget dicari,, kamu tahu nggak kemaren aku ke rumah mu
buat pinjem buku cetak IPS! Tapi, rumahmu nggak ketemu-ketemu! Kamu bilang
rumah mu di dekat PLN kan? Aku udah nyarian di sekitar PLN, sampai masuk ke
dalam PLN malah! Tapi rumah mu nggak ketemu-ketemu juga!. Terus, begitu aku
masuk ke dalam PLN nanya dimana rumah mu.... eeeehh, tau-taunya malah di kasih
tau rumahnya Rara, yang sama sekali tidak ku kenal ! ” aku pun nyerocos nggak karuan, mengeluarkan
semua kekesalan yang sedari tadi ku pendam sampai jam istirahat di mulai.
Sementara itu Sekar hanya bisa melongo melihat dan mendengar ku berbicara
dengan sangat cepat tanpa ada jeda sedikit pun.
“ ya.. ampun Gy!!!
Kamu segitunya banget yah?? Maaf.. yah, akunya juga sih yang salah...
seharusnya aku kasih tau kamu kalau nama panggilan aku di rumah itu Rara... mba
yang kamu tanyain itu namanya Mba Noni, dia udah bener ngasih tahu kamu kalo
rumah aku di situ! Tapi kamunya yang nggak tahu. Yaahh!! Padahal tinggal
selangkah lagi kamu udah dapet rumah ku ” kata Sekar dengan santainya tanpa ada
rasa penyesalan sedikit pun, sambil
sesekali mengunyah makanan ringan dimulutnya. Sementara itu aku yang sejak tadi
sudah menahan nafas mendengar penjelasan Sekar, akhirnya menghembuskan nafasku
dengan pelan, namun terasa sesak. Aku memang sudah berkali-kali kesal dengan
sikap Sekar namun, entah kenapa aku
tetap saja merasa nyaman jika berteman dengan Sekar.
“ apaaa??? Jadi
mba yang tadi itu, yang nunjukin rumah kamu itu, udah bener?? huuufftt!!
Mungkin nasib ku yang memang siaal! ” gumam ku lebih kepada diriku sendiri
sehingga menutup perdebatan antara aku dan Sekar.
“ kamu nggak makan ? ” ucap Sekar dengan nada
yang terdengar polos.
“ nggaak!! ” jawab ku ketus
“ loh.. kenapa??
Katanya tadi laper!! ” “ uangku habis!!
” ujar ku yang masih terdengar ketus. “hahaha.... aku yang teraktir deh! ” kata
Sekar dengan bangganya. Namun hanya dengan satu kata itu “ traktir” mampu
membuat senyum ku menjadi mengembang. “ serius
Kar?? Kalau gitu aku mauu!! ” ucap ku dengan antusias. “ iya,, aku
traktir!! Tapi cuman seribu!! ” kata Sekar dengan suara yang terdengar jahil. “
apaa?? Seribuu??!! Mana cukup! ” protes ku sambil mengejar langkah Sekar yang
menjauh, berusaha mencari titik keadilan buat ku.
****
Hari - hari pun
berlalu dengan sangat cepat. Kegiatan Ospek yang terasa baru kemarin diadakan
sekarang sudah berlalu, berganti dengan
akan dilaksanakannya ujian semester ganjil. Persahabatan ku dengan Sekar pun
terasa sangat erat, ibaratkan sebuah perangko dan surat, yang apabila
dipisahkan kedua benda itu tak akan ada
artinya. aku yang selama beberapa bulan terakhir ini sering mengunjungi rumah
Sekar untuk berbagai keperluan dari keperluan yang penting sampai yang tidak
penting sekali pun. Kami sering mengerjakan tugas bersama, mulai dari tugas
kelompok sampai tugas individu, bermain, bergosip ria, bahkan sesekali kami
mengambil buah kerseng yang terletak di samping rumah Sekar, mengumpulkan
buahnya satu persatu didalam aqua gelas sampai terisi penuh.
“ Kar.. Kar.. Kar... Sekaaarr!! Cepatan
kesinii!! ” kata ku dengan suara yang menggebu-gebu.
“
kenapa sih Gy?? Biasaa aja kali manggilnya! ”
“ ituuu..!!! ada
buah kerseng,,, besar bangett!! Merah lagi!! ” ucap ku dengan pandangan yang
tidak lepas dari buah kerseng. Mataku seperti akan berubah menjadi merah apabila
melihat buah kerseng. “baguuss!! Tapi, buahnya tinggi banget mana bisa diambil
sama kita, coba ada Ardi pasti buah itu bakal keambil. Ardi kan tinggi.” Gumam
Sekar. “ iiiihhh...! kok malah ngomongin Ardi sih? Tanpa Ardi, kita juga bisa
ambil ”. Dengan gesit aku mengambil kayu yang ada di atas drum. kami asyik
melayang-layangkan kayu itu, berharap mendapat
keberuntungan agar kami berhasil mengenai buah itu.
****
Seolah sudah
menjadi rutinitas para pelajar untuk pergi sekolah. Aku, Sekar,dan teman-teman
lainnya memasuki kelas yang dimulai tepat jam 1 siang. Seperti biasa, pelajaran
pertama hari ini adalah BIOLOGi! Gurunya sangat tegas dan menuntut! Sudah
menjadi kebiasaan Bu Yanti untuk selalu memberikan pertanyaan mengenai
pelajaran sebelumnya kepada murid-muridnya.
“ Selamat siang anak-anak! ” sapa bu yanti
ramah.
“ siang Bu...”
sahut anak-anak serempak. “Berhubung materi pembelajaran kita minggu lalu
mengenai sel dan jaringan pada tumbuhan, ibu akan mengajukan beberapa
pertanyaan kepada kalian”. Dalam sekejap
anak-anak langsung membuka bukunya secara sembunyi-sembunyi, berusaha membaca
materi sebelumnya. Dengan langkah perlahan tapi pasti, Bu Yanti berjalan
menyusuri anak-anak secara bergantian. Anak-anak pada memasang muka waspada dan
harap-harap cemas. Akhirnya Bu Yanti
berhenti di depan seorang anak perempuan berambut sebahu bernama Tari.
“ kamu! Coba
sebutkan sel apa saja yang terdapat pada tumbuhan? ” Tari pun menjawab pertanyaan
dengan mantap. Sementara itu, aku dan Sekar tampak gelisah bak cacing
kepanasan.
“Kar..kar..kar..
liat ibu Yanti tuh!! Dia mau menuju ke sini! mampus deh kalau dia ngajuin
pertanyaan yang aneh-aneh!” ujar ku pelan. “ iya.. gimana nih?? ” kata Sekar.
Bu Yanti pun akhirnya sampai di barisan tempat duduk ku. Ia kemudian menunjuk
ku untuk menjelaskan fungsi jaringan epidermis dan parenkim. Huh, kenapa mesti
aku sih yang ditunjuk! Mendengar
pertanyaan dari Bu Yanti, sontak membuat tubuh ku refleks membeku. Otakku
berusaha mencerna pertanyaan barusan, mencoba mencari sepatah dua patah kata,
untuk bisa kukeluarkan dari mulutku yang kaku. Tidak tau mau menjawab apa, aku
merasa buntu dan ngebleng. aku bener-bener nggak sempet buka-buka buku ku
semalam. Mendadak mata ku berkeliling menyapu ruangan kelas. Berusaha mencari
bantuan dari siapa saja yang mau menolongku. Tiba-tiba saja mata ku
bertumbukkan dengan Ardi. Ku lihat Ardi seolah menyampaikan sesuatu lewat tangannya yang berusaha merangkai huruf-huruf
menjadi sebuah kata dan kalimat. Refleks aku tahu bahwa Ardi sedang membantuku
menjawab. Tanpa berleha-leha lagi, aku pun langsung membaca apa yang
disampaikan Ardi, dengan suara yang terdengar mengeja. Namun, perlahan tapi
pasti aku akhirnya mampu menjawab pertanyaan Bu Yanti.
Setelah pelajaran
usai. Terbesit niat ku untuk berterima kasih pada Ardi tapi, aku kembali
mengingat semua kelakuan jahil Ardi padaku. Mulai dari kebiasaan buruknya
mengejek ku dan Sekar sampai kelakuan gilanya yang selalu melempar-lempar
kertas atau pun pulpen pada saat jam mata pelajaraan berlangsung.
****
Ujian akhir
semester akhirnya berakhir, murid-murid sudah dapat bersantai-santai ria sambil
merilekskan otaknya setelah sudah dipanaskan selama seminggu belakangan ini.
Di rumah Sekar...
“ ma...! kita beneran mau pindah ? tanya Sekar
sedih. “ iya nak! Kita mau pindah besok lusa. Papa kamu SK nya sudah keluar,
sekarang dia ditugasin kerja ke Lohtunduh ”
“ maaa..! apa gak
bisa kita pindah pas Sekar naik kelas 2 ? kan tanggung ma! ” pinta Sekar sambil
memelas. “ mama sih maunya begitu sayang, tapi mama nggak bisa! Mama nggak bisa
jauh-jauh dari papa. Lagian papa udah mutusin dan papa juga sudah pesan tiket,
kan sayang tiketnya kalao dibuang percuma.” Ujar mamanya sambil membelai rambut
Sekar. “ Sekar tidur dulu yah mah! Sekar udah ngantuk.” Dalam hati Sekar hanya
bisa bergumam “ huh.. mama nggak bisa jauh-jauh dari papa, sama kayak aku,
nggak bisa jauh-jauh dari Kugy” tak dapat menahan perasaannya yang sedang
galau, akhirnya Sekar memilih permisi tidur. Ada sesuatu yang remuk di hati
Sekar, dan pecahan-pecahannya seolah menyebar ke seluruh tubuh, membuatnya
meringkuk memeluk guling menahan pedih. Dan segala kenangan dan kebahagiannya
selama ini juga ikut memuncak, meledak, hingga kesedihan itu tak tertanggungkan
lagi. Butir demi butir air mata pun mulai melelehi pipinya. Sejenak Sekar
mengangkat mukanya, melirik fotonya dengan Kugy yang terbingkai rapi. Senyum
merekah menghiasi wajah mereka berdua. ia merasa berat meninggalkan Kugy. Dan
Sekar pun membenamkan mukanya kembali ke dalam guling.
****
Cuaca sore hari
ini sangat bersahabat. Murid-murid kelas 1.a
SMP nusa itu berbondong-bondong menuju lapangan sekolah untuk berolahraga.
Mata ku tak lepas
mengamati Sekar yang sejak tadi tampak murung. Ada gelombang yang tertangkap
oleh radar ku. Gelombang yang mengisyaratkan ketidakberesan, situasi yang tidak
aman. Dan aku tidak merasa nyaman. “ Kar? Kamu kenapa? Ada masalah? Cerita donk
ke aku!! Hmm... mungkin aku nggak bisa bantu, tapi kan bisa mengurangi beban
mu!! ” celetuk ku sambil tertawa ringan. Hati Sekar semakin bertamabah sakit
mendengar suara ku yang terdengar ceria. Sekar pun memutuskan untuk memberitahu
ku yang sebenarnya. Dia tak ingin menundanya lagi. “ Gy..! aku mau pindah
sekolah besok pagi. Sebenarnya hari ini aku percuma masuk sekolah, karena aku
udah bukan murid SMP Nusa lagi. Tapi, aku pingin ngeliat kamu untuk yang
terakhir kalinya. Maaf aku baru kasih tau kamu sekarang. Aku nggak tega bilang
itu ke kamu.” Ucap Sekar yang matanya mulai berkaca-kaca. Aku sangat kaget dan
tidak mempercayai hal ini. Aku berusaha mencerna kata-kata yang barusan keluar
dari mulut sahabat ku itu, kata-kata yang begitu sulit ku terima dan hati ku mulai
memberontak. Pandangan ku berubah nanar. aku tertunduk sambil berusaha
membendung air mataku yang ingin jebol
dan berhambur keluar.
“ ke mana? ” tanya
ku dengan nada yang tenang namun, sangat tajam. “ ke Lohtunduh, di Bali .”
jawab Sekar berusaha memalingkan wajahnya dari ku. Aku tidak ingin menanyakan
lebih banyak lagi, walapun ada sejuta pertanyaan yang sangat ingin terlontar
dari mulut ku. Tapi, aku tidak mau merasakan sakit setiap mendengar jawaban
yang keluar dari mulut sahabat ku. “
ayoo.. Kita ke lapangan! Kita udah telat nih! Nanti bisa di hukum sama Pak Agus
lagi! ” ajak ku sambil tersenyum miris namun, berusaha untuk tetap terlihat
ceria. Mendadak Sekar memeluk ku. Mungkin akan menjadi pelukan terakhir. “ kamu
akan tetap selalu jadi sahabat ku Gy!.” “ kamu juga.” Ucap ku. Aku tidak ingin
memperlihatkan kesedihan dan tangis ku di hadapan Sekar. aku tidak ingin
membuat Sekar tidak tenang meninggalkan
ku dan juga tidak ingin meninggalkan kesan yang sedih. Kami pun akhirnya menuju
lapangan dalam diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.
****
Di rumah Kugy...
“ maaa..! antar aku donk! Aku mau ke
rumah Sekar. Penting nih! ” rengek ku memanggil mama yang sedang sibuk di
dapur. “ masih pagi-pagi begini ngapain ke rumah Sekar? mama nggak bisa Gy.!
Mama lagi sibuk nih. Udah nggak usah ganggu mama dulu ! entar juga di sekolah
kamu ketemu sama Sekar. ” jawab mama ku kesal. “
yaah mamaa..!! entar siang udah nggak bisa lagi ma! Sekar udah berangkat. Dia
mau pindah sekolah! Ada yang mau ku sampaikan sama dia maa..! ” protes ku
dengan putus asa. Tapi, mama ku sudah
tidak menyahut lagi, menandakan keputusan sudah final bahwa kemauan ku tidak bisa
dituruti. Aku tidak berani membantah mama lagi. Aku takut mama mengamuk. Kalau
mama mengamuk, mama bakal marah berkepanjangan.
Dalam keputus asaan aku hanya bisa diam menahan perasaan ku yang sedang
bergejolak. Ku lihat jam dinding yang dengan manis menempel di ruang tamu ku. “
Sudah jam 8 lewat, pasti Sekar sudah berangkat dari tadi. Selamat tinggal
Sekar! Semoga di sekolah baru mu, kamu dapet sahabat yang lebih baik dari aku.
Kamu akan tetap selalu jadi sahabatku Kar! ” gumam ku dalam hati. Mata ku
mendadak panas. Aku tidak bisa untuk
menahannya lagi, akhirnya air mata ku jebol keluar dan menangis sejadi-jadinya
membenamkan tangis ku dalam bantal yang ku peluk.
Di rumah Sekar...
“ maa.. ! berangkatnya bentar lagi yah
maa!! Sekar mau nunggu Kugy dulu.” Pinta Sekar putus asa. Nggak bisa sayang!
Mau ngulur waktu berapa lama lagi? Ini aja kita udah telat.” Dengan langkah
berat Sekar akhirnya masuk ke dalam mobil. Dibalikkannya badannya sekali lagi,
berharap badan kecil Kugy muncul dan tersenyum sambil berlari ngos-ngosan ke
arahnya. Namun, itu hanyalah sebuah harapan yang mustahil. “ Pasti Kugy masih
tidur jam segini! Dasar tukang tidur!” celetuk Sekar sambil manyun. Sekar pun
akhirnya pergi tanpa menoleh sedikit pun kebelakang.
****
Sepanjang perjalanan ke sekolah aku sibuk memikirkan
Sekar. Sibuk memikirkan apa saja yang bisa ku lakukan tanpa Sekar, sibuk
memikirkan siapa yang akan duduk disamping ku nanti, dan sibuk memikirkan siapa
yang akan menemani ku ke kantin, toilet, perpustakaan atau pun tempat – tempat
yang ingin ku kunjingi. Aku menapakkan kaki di kelas. Ku lihat tawa teman-teman
ku, terutama tawa Ardi yang paling membahana. Hati ku begitu hampa, kosong, dan
pedih. Aku benar-benar sudah kehilangan seorang sahabat yang sangat berarti
buat ku. Dengan langkah gontai aku perlahan masuk ke dalam kelas dan duduk diam
di bangku ku. Ku lihat bangku Sekar yang
ada disamping ku, tampak kosong tak berpenghuni. Seketika terbesit semua
kenangan indah bersama Sekar. Mata ku tiba-tiba menjadi panas, berkaca-kaca. Sebutir
air mata keluar dan mengalir di pipi ku.
****
Sebulan setelah kepindahan Sekar. Aku
merasa sangat kesepian. Hari-hari ku yang biasa di isi dengan canda tawa
bersama Sekar sekarang sudah tidak ada lagi berganti dengan kekosongan.
Teman-teman sekelas ku selalu mengajak ku bercanda, namun aku hanya memberikan
reaksi yang datar tanpa tawa atau pun senyum sedikit pun. Karena aku pikir
semua candaan yang mereka buat sama sekali tidak lucu, dan sama sekali tidak
bisa membuat ku tertawa. Dan itu semua membuat teman-teman ku menjauh dari ku.
Mereka bilang kalau aku membosankan, tidak seru, dan selalu memasang muka
datar. Aku sudah tidak menjadi diri ku yang dulu. aku menjadi pribadi yang
cuek, masa bodoh, pendiam, dan penyendiri. Kecerian, senyum, dan tawa ku seolah
sirna begitu saja. Dalam hati, aku hanya berharap bisa bertemu dengan Sekar
lagi, walaupun hanya sebentar.
The
end. ;-)