Sabtu, 26 Oktober 2013

Harapan Seorang Sahabat


Harapan Seorang Sahabat
Mempunyai teman memang menyenangkan apalagi kalau mempunyai seorang sahabat. Setiap hari selalu bersama sambil menceritakan banyak hal yang dialami. Kadang bercerita tentang sesuatu hal yang menyedihkan, tapi terkadang juga menceritakan hal yang menyenangkan hingga membuat kami tertawa bersama. Seperti  itulah hubungan persahabatan yang baru kami alami selama kurang lebih 7 bulan. Walaupun dengan waktu yang sesingkat itu tapi, persahabatan kami terasa seperti sudah lama. Begitu hidup, hangat, akrab, dan dekat.
Namaku Kugy Alisia . Saat ini aku baru duduk di kelas 1 SMP, aku bersekolah di SMP Nusa. Sekolah yang menurutku menyimpan banyak kenangan yang indah maupun kenangan yang buruk. Sekolah yang mempertemukan ku dengan seorang sahabat,  mengenalkan ku dengan perasaan suka terhadap lawan jenis, dan mengenalkan ku bagaimana rasanya sakit hati. Tak ada yang istimewa dariku. Aku hanyalah gadis biasa, bodoh, dan selalu bersikap aneh.
****
Hari mingguuu!!!
Ya, hari ini memang hari minggu. Hari dimana orang asyik bersantai-santai ria, tapi tidak dengan ku. Aku berniat untuk menemui  Sekar di rumahnya, aku sadar aku sama sekali tidak tahu dimana Sekar tinggal. Tapi, aku sudah berniat untuk menemuinya dan keputusanku sudah bulat! Yang jelas Sekar hanya pernah bilang, kalau dia tinggal di dekat PLN.
Siang ini sangat panas. Matahari seolah marah dan bersinar terang memancarkan cahayanya yang sangat terik dan mencekik leher, bahkan mampu membuat kepala menjadi penat. Para pejalan kaki sibuk berlalu lalang, begitu pun dengan kendaraan-kendaraan yang menambah udara pada siang ini menjadi gerah, sempit, dan sesak.
Aku mondar-mandir di depan PLN. Mencoba mencari rumah Sekar sahabatku. Sudah ada beberapa rumah yang aku datangi tapi, tetap saja tidak ada yang tahu dimana rumah Sekar.  Akhirnya aku berniat menanyakannya sekali lagi pada salah satu rumah kayu yang berada didepan ku. Ketika sudah menanyakannya kepada pemilik rumah, lagi-lagi aku tidak mendapatkan informasi yang bisa membantuku menemukan rumah Sekar. Ketika aku hendak pamit keluar dari rumah itu dengan sedikit berlari, aku tidak melihat tong sampah yang ada di sebelahku. Tak disangka-sangka rok panjang ku nyangkut di kawat yang terpasang pada tong sampah. Tidak dapat mempertahankan keseimbangan tubuhku, akhirnya aku  jatuh dengan posisi tengkurap. Memalukan sekali!! -_-Kejadiaanya terasa sangat cepat. Aku pun bangun sambil meringis pelan dan mendapati tanganku yang sedikit lecet dan ujung rokku yang sobek. Perasaan kesal, jengkel, marah, dan malu sedang berkecamuk di hatiku sekarang!! Beruntung tidak ada yang melihatku, dalam hati aku hanya bisa berteriak “ Sekaaaarr!!! Awas yah kalo nanti kita ketemu,, bakalan tamat riwayat mu!! Kenapa sih rumah mu susah banget dicari? Atau kamunya yang nggak terkenal !! Sehingga nggak ada yang tahu orang yang namanya “ Sekar Ningrum ” huuh,,, sebeell!! ” -__- dalam hati aku bergumam tidak jelas dan seketika mengusap keringatku yang menetes jatuh di keningku.
Entah  apa yang membawaku masuk ke dalam PLN. Aku hanya mengikuti langkah kakiku. Saat masuk ke dalam PLN aku merasa sangat dekat dengan rumah Sekar, walaupun itu hanya sekedar perasaan yang belum tentu benar. Ku lihat  sebuah warung makan atau lebih mirip dengan kantin,  yang terletak tidak jauh dari tempat ku berdiri sekarang. Aku ingin menanyakan rumah Sekar pada pemilik kantin itu tapi, entah apa yang membuat ku untuk mengurungkan niat, mungkin karena kantin itu sedang ramai pengunjung. Aku kemuadian lebih memilih bertanya pada rumah yang berada tepat disamping kantin itu.
“ assalamualaikum! ” ku ketuk pintu itu dengan sangat hati-hati
“ walaikumsalam...cari siapa dek? ” kata seorang perempuan yang masih muda
“ aku mau nanya! Mba tau nggak rumahnya Sekar Ningrum? katanya dia tinggal di sekitar PLN ini”
“ Sekar Ningrum? Adek cari temennya yah? Kalau disini sih emang ada anak yang seusia kamu, tapi namanya bukan Sekar, namanya Rara ” kata mba itu sambil menunjuk rumah yang berada tepat depannya. Rumah yang terdapat sangkar burung dengan beberapa burung yang indah dan juga tertanam pohon kerseng yang sangat lebat sehingga membuat suasana rumah itu menjadi rimbun.
“ ohh... gitu yah mba? Ya sudah kalau gitu, saya permisi dulu! Makasih ” ucap ku sambil lalu melihat rumah yang ditunjukkan mba itu.
Dengan langkah gontai dan perasaan kecewa, aku pamit pulang sambil sesekali mengusap keringat yang menetes di pipiku, mengingat matahari pada siang ini sangat terik. Aku sudah nyerah mencari rumah Sekar. Aku pun keluar dari PLN mencari ojek untuk pulang ke rumah. aku sama sekali sudah tidak memikirkan masalah buku yang ingin ku pinjam. Yang ku pikirkan hanyalah pulang ke rumah!
                                                                                               **** 
Di kantin sekolah...
“ Sekaaaaarrr !!! Sumpah! Rumahmu susah banget dicari,, kamu tahu nggak kemaren aku ke rumah mu buat pinjem buku cetak IPS! Tapi, rumahmu nggak ketemu-ketemu! Kamu bilang rumah mu di dekat PLN kan? Aku udah nyarian di sekitar PLN, sampai masuk ke dalam PLN malah! Tapi rumah mu nggak ketemu-ketemu juga!. Terus, begitu aku masuk ke dalam PLN nanya dimana rumah mu.... eeeehh, tau-taunya malah di kasih tau rumahnya Rara, yang sama sekali tidak ku kenal ! ”  aku pun nyerocos nggak karuan, mengeluarkan semua kekesalan yang sedari tadi ku pendam sampai jam istirahat di mulai. Sementara itu Sekar hanya bisa melongo melihat dan mendengar ku berbicara dengan sangat cepat tanpa ada jeda sedikit pun.
“ ya.. ampun Gy!!! Kamu segitunya banget yah?? Maaf.. yah, akunya juga sih yang salah... seharusnya aku kasih tau kamu kalau nama panggilan aku di rumah itu Rara... mba yang kamu tanyain itu namanya Mba Noni, dia udah bener ngasih tahu kamu kalo rumah aku di situ! Tapi kamunya yang nggak tahu. Yaahh!! Padahal tinggal selangkah lagi kamu udah dapet rumah ku ” kata Sekar dengan santainya tanpa ada rasa penyesalan sedikit pun,  sambil sesekali mengunyah makanan ringan dimulutnya. Sementara itu aku yang sejak tadi sudah menahan nafas mendengar penjelasan Sekar, akhirnya menghembuskan nafasku dengan pelan, namun terasa sesak. Aku memang sudah berkali-kali kesal dengan sikap Sekar  namun, entah kenapa aku tetap saja merasa nyaman jika berteman dengan Sekar.
“ apaaa??? Jadi mba yang tadi itu, yang nunjukin rumah kamu itu, udah bener?? huuufftt!! Mungkin nasib ku yang memang siaal! ” gumam ku lebih kepada diriku sendiri sehingga menutup perdebatan antara aku dan Sekar.
“ kamu nggak makan ? ” ucap Sekar dengan nada yang terdengar polos.
“ nggaak!! ” jawab ku ketus
“ loh.. kenapa?? Katanya tadi laper!! ”  “ uangku habis!! ” ujar ku yang masih terdengar ketus. “hahaha.... aku yang teraktir deh! ” kata Sekar dengan bangganya. Namun hanya dengan satu kata itu “ traktir” mampu membuat senyum ku menjadi mengembang. “ serius  Kar?? Kalau gitu aku mauu!! ” ucap ku dengan antusias. “ iya,, aku traktir!! Tapi cuman seribu!! ” kata Sekar dengan suara yang terdengar jahil. “ apaa?? Seribuu??!! Mana cukup! ” protes ku sambil mengejar langkah Sekar yang menjauh, berusaha mencari titik keadilan buat ku.
****
Hari - hari pun berlalu dengan sangat cepat. Kegiatan Ospek yang terasa baru kemarin diadakan sekarang sudah berlalu,  berganti dengan akan dilaksanakannya ujian semester ganjil. Persahabatan ku dengan Sekar pun terasa sangat erat, ibaratkan sebuah perangko dan surat, yang apabila dipisahkan kedua benda itu tak akan  ada artinya. aku yang selama beberapa bulan terakhir ini sering mengunjungi rumah Sekar untuk berbagai keperluan dari keperluan yang penting sampai yang tidak penting sekali pun. Kami sering mengerjakan tugas bersama, mulai dari tugas kelompok sampai tugas individu, bermain, bergosip ria, bahkan sesekali kami mengambil buah kerseng yang terletak di samping rumah Sekar, mengumpulkan buahnya satu persatu didalam aqua gelas sampai terisi penuh.
“ Kar.. Kar.. Kar... Sekaaarr!! Cepatan kesinii!! ” kata ku dengan suara yang menggebu-gebu.
 “ kenapa sih Gy?? Biasaa aja kali manggilnya! ”
“ ituuu..!!! ada buah kerseng,,, besar bangett!! Merah lagi!! ” ucap ku dengan pandangan yang tidak lepas dari buah kerseng. Mataku seperti akan berubah menjadi merah apabila melihat buah kerseng. “baguuss!! Tapi, buahnya tinggi banget mana bisa diambil sama kita, coba ada Ardi pasti buah itu bakal keambil. Ardi kan tinggi.” Gumam Sekar. “ iiiihhh...! kok malah ngomongin Ardi sih? Tanpa Ardi, kita juga bisa ambil ”. Dengan gesit aku mengambil kayu yang ada di atas drum. kami asyik melayang-layangkan  kayu itu, berharap mendapat keberuntungan agar kami berhasil mengenai buah itu.
****
Seolah sudah menjadi rutinitas para pelajar untuk pergi sekolah. Aku, Sekar,dan teman-teman lainnya memasuki kelas yang dimulai tepat jam 1 siang. Seperti biasa, pelajaran pertama hari ini adalah BIOLOGi! Gurunya sangat tegas dan menuntut! Sudah menjadi kebiasaan Bu Yanti untuk selalu memberikan pertanyaan mengenai pelajaran sebelumnya kepada murid-muridnya.
 “ Selamat siang anak-anak! ” sapa bu yanti ramah.
“ siang Bu...” sahut anak-anak serempak. “Berhubung materi pembelajaran kita minggu lalu mengenai sel dan jaringan pada tumbuhan, ibu akan mengajukan beberapa pertanyaan kepada kalian”.  Dalam sekejap anak-anak langsung membuka bukunya secara sembunyi-sembunyi, berusaha membaca materi sebelumnya. Dengan langkah perlahan tapi pasti, Bu Yanti berjalan menyusuri anak-anak secara bergantian. Anak-anak pada memasang muka waspada dan harap-harap cemas. Akhirnya  Bu Yanti berhenti di depan seorang anak perempuan berambut sebahu bernama Tari.
“ kamu! Coba sebutkan sel apa saja yang terdapat pada tumbuhan? ” Tari pun menjawab pertanyaan dengan mantap. Sementara itu, aku dan Sekar tampak gelisah bak cacing kepanasan.
“Kar..kar..kar.. liat ibu Yanti tuh!! Dia mau menuju ke sini! mampus deh kalau dia ngajuin pertanyaan yang aneh-aneh!” ujar ku pelan. “ iya.. gimana nih?? ” kata Sekar. Bu Yanti pun akhirnya sampai di barisan tempat duduk ku. Ia kemudian menunjuk ku untuk menjelaskan fungsi jaringan epidermis dan parenkim. Huh, kenapa mesti aku sih yang ditunjuk!  Mendengar pertanyaan dari Bu Yanti, sontak membuat tubuh ku refleks membeku. Otakku berusaha mencerna pertanyaan barusan, mencoba mencari sepatah dua patah kata, untuk bisa kukeluarkan dari mulutku yang kaku. Tidak tau mau menjawab apa, aku merasa buntu dan ngebleng. aku bener-bener nggak sempet buka-buka buku ku semalam. Mendadak mata ku berkeliling menyapu ruangan kelas. Berusaha mencari bantuan dari siapa saja yang mau menolongku. Tiba-tiba saja mata ku bertumbukkan dengan Ardi. Ku lihat Ardi seolah menyampaikan sesuatu lewat  tangannya yang berusaha merangkai huruf-huruf menjadi sebuah kata dan kalimat. Refleks aku tahu bahwa Ardi sedang membantuku menjawab. Tanpa berleha-leha lagi, aku pun langsung membaca apa yang disampaikan Ardi, dengan suara yang terdengar mengeja. Namun, perlahan tapi pasti aku akhirnya mampu menjawab pertanyaan Bu Yanti.
Setelah pelajaran usai. Terbesit niat ku untuk berterima kasih pada Ardi tapi, aku kembali mengingat semua kelakuan jahil Ardi padaku. Mulai dari kebiasaan buruknya mengejek ku dan Sekar sampai kelakuan gilanya yang selalu melempar-lempar kertas atau pun pulpen pada saat jam mata pelajaraan berlangsung.
****
Ujian akhir semester akhirnya berakhir, murid-murid sudah dapat bersantai-santai ria sambil merilekskan otaknya setelah sudah dipanaskan selama seminggu belakangan ini.
Di rumah Sekar...
“ ma...! kita beneran mau pindah ? tanya Sekar sedih. “ iya nak! Kita mau pindah besok lusa. Papa kamu SK nya sudah keluar, sekarang dia ditugasin kerja ke Lohtunduh ”
“ maaa..! apa gak bisa kita pindah pas Sekar naik kelas 2 ? kan tanggung ma! ” pinta Sekar sambil memelas. “ mama sih maunya begitu sayang, tapi mama nggak bisa! Mama nggak bisa jauh-jauh dari papa. Lagian papa udah mutusin dan papa juga sudah pesan tiket, kan sayang tiketnya kalao dibuang percuma.” Ujar mamanya sambil membelai rambut Sekar. “ Sekar tidur dulu yah mah! Sekar udah ngantuk.” Dalam hati Sekar hanya bisa bergumam “ huh.. mama nggak bisa jauh-jauh dari papa, sama kayak aku, nggak bisa jauh-jauh dari Kugy” tak dapat menahan perasaannya yang sedang galau, akhirnya Sekar memilih permisi tidur. Ada sesuatu yang remuk di hati Sekar, dan pecahan-pecahannya seolah menyebar ke seluruh tubuh, membuatnya meringkuk memeluk guling menahan pedih. Dan segala kenangan dan kebahagiannya selama ini juga ikut memuncak, meledak, hingga kesedihan itu tak tertanggungkan lagi. Butir demi butir air mata pun mulai melelehi pipinya. Sejenak Sekar mengangkat mukanya, melirik fotonya dengan Kugy yang terbingkai rapi. Senyum merekah menghiasi wajah mereka berdua. ia merasa berat meninggalkan Kugy. Dan Sekar pun membenamkan mukanya kembali ke dalam guling.
****
Cuaca sore hari ini sangat bersahabat. Murid-murid kelas 1.a SMP nusa itu berbondong-bondong menuju lapangan sekolah untuk berolahraga.
Mata ku tak lepas mengamati Sekar yang sejak tadi tampak murung. Ada gelombang yang tertangkap oleh radar ku. Gelombang yang mengisyaratkan ketidakberesan, situasi yang tidak aman. Dan aku tidak merasa nyaman. “ Kar? Kamu kenapa? Ada masalah? Cerita donk ke aku!! Hmm... mungkin aku nggak bisa bantu, tapi kan bisa mengurangi beban mu!! ” celetuk ku sambil tertawa ringan. Hati Sekar semakin bertamabah sakit mendengar suara ku yang terdengar ceria. Sekar pun memutuskan untuk memberitahu ku yang sebenarnya. Dia tak ingin menundanya lagi. “ Gy..! aku mau pindah sekolah besok pagi. Sebenarnya hari ini aku percuma masuk sekolah, karena aku udah bukan murid SMP Nusa lagi. Tapi, aku pingin ngeliat kamu untuk yang terakhir kalinya. Maaf aku baru kasih tau kamu sekarang. Aku nggak tega bilang itu ke kamu.” Ucap Sekar yang matanya mulai berkaca-kaca. Aku sangat kaget dan tidak mempercayai hal ini. Aku berusaha mencerna kata-kata yang barusan keluar dari mulut sahabat ku itu, kata-kata yang begitu sulit ku terima dan hati ku mulai memberontak. Pandangan ku berubah nanar. aku tertunduk sambil berusaha membendung air mataku  yang ingin jebol dan berhambur keluar.
“ ke mana? ” tanya ku dengan nada yang tenang namun, sangat tajam. “ ke Lohtunduh, di Bali .” jawab Sekar berusaha memalingkan wajahnya dari ku. Aku tidak ingin menanyakan lebih banyak lagi, walapun ada sejuta pertanyaan yang sangat ingin terlontar dari mulut ku. Tapi, aku tidak mau merasakan sakit setiap mendengar jawaban yang  keluar dari mulut sahabat ku. “ ayoo.. Kita ke lapangan! Kita udah telat nih! Nanti bisa di hukum sama Pak Agus lagi! ” ajak ku sambil tersenyum miris namun, berusaha untuk tetap terlihat ceria. Mendadak Sekar memeluk ku. Mungkin akan menjadi pelukan terakhir. “ kamu akan tetap selalu jadi sahabat ku Gy!.” “ kamu juga.” Ucap ku. Aku tidak ingin memperlihatkan kesedihan dan tangis ku di hadapan Sekar. aku tidak ingin membuat Sekar  tidak tenang meninggalkan ku dan juga tidak ingin meninggalkan kesan yang sedih. Kami pun akhirnya menuju lapangan dalam diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.
****
Di rumah Kugy...
“ maaa..! antar aku donk! Aku mau ke rumah Sekar. Penting nih! ” rengek ku memanggil mama yang sedang sibuk di dapur. “ masih pagi-pagi begini ngapain ke rumah Sekar? mama nggak bisa Gy.! Mama lagi sibuk nih. Udah nggak usah ganggu mama dulu ! entar juga di sekolah kamu ketemu sama Sekar. ” jawab mama ku kesal.     “ yaah mamaa..!! entar siang udah nggak bisa lagi ma! Sekar udah berangkat. Dia mau pindah sekolah! Ada yang mau ku sampaikan sama dia maa..! ” protes ku dengan putus asa. Tapi,  mama ku sudah tidak menyahut lagi, menandakan keputusan sudah final bahwa kemauan ku tidak bisa dituruti. Aku tidak berani membantah mama lagi. Aku takut mama mengamuk. Kalau mama mengamuk, mama bakal marah berkepanjangan.  Dalam keputus asaan aku hanya bisa diam menahan perasaan ku yang sedang bergejolak. Ku lihat jam dinding yang dengan manis menempel di ruang tamu ku. “ Sudah jam 8 lewat, pasti Sekar sudah berangkat dari tadi. Selamat tinggal Sekar! Semoga di sekolah baru mu, kamu dapet sahabat yang lebih baik dari aku. Kamu akan tetap selalu jadi sahabatku Kar! ” gumam ku dalam hati. Mata ku mendadak panas. Aku tidak  bisa untuk menahannya lagi, akhirnya air mata ku jebol keluar dan menangis sejadi-jadinya membenamkan tangis ku dalam bantal yang  ku peluk.
Di rumah Sekar...
“ maa.. ! berangkatnya bentar lagi yah maa!! Sekar mau nunggu Kugy dulu.” Pinta Sekar putus asa. Nggak bisa sayang! Mau ngulur waktu berapa lama lagi? Ini aja kita udah telat.” Dengan langkah berat Sekar akhirnya masuk ke dalam mobil. Dibalikkannya badannya sekali lagi, berharap badan kecil Kugy muncul dan tersenyum sambil berlari ngos-ngosan ke arahnya. Namun, itu hanyalah sebuah harapan yang mustahil. “ Pasti Kugy masih tidur jam segini! Dasar tukang tidur!” celetuk Sekar sambil manyun. Sekar pun akhirnya pergi tanpa menoleh sedikit pun kebelakang.
****
Sepanjang  perjalanan ke sekolah aku sibuk memikirkan Sekar. Sibuk memikirkan apa saja yang bisa ku lakukan tanpa Sekar, sibuk memikirkan siapa yang akan duduk disamping ku nanti, dan sibuk memikirkan siapa yang akan menemani ku ke kantin, toilet, perpustakaan atau pun tempat – tempat yang ingin ku kunjingi. Aku menapakkan kaki di kelas. Ku lihat tawa teman-teman ku, terutama tawa Ardi yang paling membahana. Hati ku begitu hampa, kosong, dan pedih. Aku benar-benar sudah kehilangan seorang sahabat yang sangat berarti buat ku. Dengan langkah gontai aku perlahan masuk ke dalam kelas dan duduk diam di bangku ku. Ku lihat bangku Sekar yang  ada disamping ku, tampak kosong tak berpenghuni. Seketika terbesit semua kenangan indah bersama Sekar. Mata ku tiba-tiba menjadi panas, berkaca-kaca. Sebutir air mata keluar dan mengalir di pipi ku.
****
Sebulan setelah kepindahan Sekar. Aku merasa sangat kesepian. Hari-hari ku yang biasa di isi dengan canda tawa bersama Sekar sekarang sudah tidak ada lagi berganti dengan kekosongan. Teman-teman sekelas ku selalu mengajak ku bercanda, namun aku hanya memberikan reaksi yang datar tanpa tawa atau pun senyum sedikit pun. Karena aku pikir semua candaan yang mereka buat sama sekali tidak lucu, dan sama sekali tidak bisa membuat ku tertawa. Dan itu semua membuat teman-teman ku menjauh dari ku. Mereka bilang kalau aku membosankan, tidak seru, dan selalu memasang muka datar. Aku sudah tidak menjadi diri ku yang dulu. aku menjadi pribadi yang cuek, masa bodoh, pendiam, dan penyendiri. Kecerian, senyum, dan tawa ku seolah sirna begitu saja. Dalam hati, aku hanya berharap bisa bertemu dengan Sekar lagi, walaupun hanya sebentar.
The end.  ;-)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar