hmm... cerpen ini merupakan cerpen perlombaan.. wkwkwkkw, waktu itu di kota ku diadakan perlombaan mengenai hari perpustakaan dan temanya pastinya menyangkut perpustakaan^^ cerpen ini masuk juara harapan 1 loh!!! walupun cuman harapan satu tapi yang jelasnya kan juaraaaa broooo!! kkkkkkk!
Selamat membaca sob^^
I LOVE
PERPUSTAKAAN
HARI
Seniiiin!!!
Ya, hari
ini memang hari
senin, hari yang
jadi awal kegiatan
rutin sehari-hari, termasuk
awal sekolah. Hari
yang paling dibenci
sebagian anak sekolah,
nggak terkecuali Alinda.
Alinda males
banget bangun sepagi
ini. Apalgai semalaman
suntuk dia begadang
karena belajar buat
persiapan ulangan.
Kenapa sih
harus ada upacara
bendera yang bikin setiap siswa
harus datang lebih
pagi dari biasanya?
Mau nggak mau,
semua siswa harus
datang lebih pagi
kalau nggak ingin
terpaksa ikut upacara
bendera dari luar
pagar sekolah atau
nggak disuruh pulang.
Soalnya kalau terlambat, meraka
harus berhadapan dengan
guru BP yang
galaknya minta ampun,
dicatat nama dan
kelasnya plus nama
wali kelas, dan
diperingati untuk nggak
terlambat lagi, atau hukuman
yang lebih berat
bakal menanti.
Dan hari
senin ini ada
ulangan fisika! Jam
pertama lagi! Kenapa
sih harus ada
pelajaran yang bikin
pusing seperti fisika,
matematika, dan kawan-kawannya?
Pagi ini
begitu cerah. Matahari
bersinar memancarkan cahayanya.
Siswa-siswi SMA Harapan itu
mulai ramai berdatangan.
Orang-orang terlihat gembira, saling tersenyum,
tertawa dan mengobrol.
SMA Harapan
bukanlah salah satu
sekolah favorit yang
ada di kota
ini. Letaknya yang
di pinggir timur
kota dan bukan
di jalur kendaraan
umum menjadi salah
satu faktor nggak
populernya SMA Harapan.
Selain itu SMA
Harapan merupakan salah
satu SMA negeri
yang dijadikan pilot project
oleh pemerintah sebagai
sekolah “ murah ” untuk
masyarakat kelas menengah
ke bawah. Sehingga
SPP di SMA
Harapan sangat murah,
itu pun nggak
semua siswa mampu
membayar. Pihak sekolah
juga nggak boleh
melakukan pungutan lain,
hingga pembiayaan operasional
sekolah hanya mengandalkan
SPP dan subsidi
pemerintah. Karena itu,
nggak heran fasilitas-fasilitas di
sekolah ini kurang
memadai, begitu pun
bangunan-bangunannya.
Terutama perpustakaan yang
bangunannya bisa dibilang
sudah tidak pantas
lagi, buku-buku dalam
perpustakaan juga sudah
buku-buku lama.
Sesudah selesai
upacara, Alinda melangkahkan
kakinya dengan malas
menuju kelas. Sesampainya
di kelas dia
hanya bengong karena
memikirkan sesuatu yang
akhir-akhir ini sering
dipikirkannya.
“ Aku
pingin merenovasi perpustakaan,
tapi gimana caranya yah?
Orang-orang pada males
pergi ke sana.
Pasti karena ruangannya
itu!, di tambah
lagi buku-buku yang
sudah lama. Tapi,
masa Cuma aku
dan segelintir orang
saja yang sering
ke perpustakaan? Ditambah
lagi aku nggak
suka kalau perpustakaan
itu penghuninya sedikit. ”
Bu Wati
yang telah masuk
ke kelas XI IPA
1 untuk
mengadakan ulangan yang sudah
disepakati membuat Alinda
sadar dari lamunannya
sejak tadi. “Anak-anak, seperti
yang sudah kita
sepakati, hari ini
kita akan ulangan.
Semua buku catatan, tugas,
maupun buku cetak
dikumpul di depan,, sekarang!!!! ”
****
“ Lin!
Loe mau kemana?”
kata Sekar yang
merupakan teman dekat
Alinda.
“
Seperti biasa,, gue
mau ke perpustakaan, loe mau
ikut? ”
“ Gueee.... ? ”
Tanpa babibu
lagi Alinda langsung
menarik pergelangan tangan
Sekar, yang hanya
bengong saat ditarik
oleh Alinda.
“ Loe
ngapain sih narik-narik
tangan gue? Loe
pake ngajak gue
ke sini lagi. Loe
tau nggak,, tempat
ini tuh tempat yang
paling angker di
sekolah tauuu!! dan mata bisa
sampai panuan gara-gara
ngeliatain buku-buku yang
tebalnya minta ampun
deh dan entah
apa isinya” . Kata
Sekar yang akhirnya
meluapkan semua kekesalannya
setelah berhasil masuk
ke perpustakaan dan
duduk di tempat
yang paling sudut.
Mendengar itu semua
Alinda hanya tersenyum
geli.
“ Justru
itu Kar! Gue
pingin bantuan loe
buat bikin tempat
yang dikira angker
ini jadi tempat
yang nggak angker
lagi!” Gue hanya
bisa cekikikan melihat
tampang bego plus
bengong Sekar,, aduuuhh!!
Semoga saja Sekar
mau bantuin gueee. “
Gimana caranya? Gue
nggak tau mau
bantuin apa? Emangnya
loe ngapain sih
ngurus-ngurus hal yang
bukan urusan loe?
Bikin pusing tauuuu!!!”
Aku hampir saja
menutup mulut Sekar
yang nyerocos nggak
karuan. “ Loe tau
nggak ini perpustakaan?
Jadi jangan ribut
dong!! Gue cuman
kepingin siswa-siswi di
sekolah ini, rajin ke perpustakaan
dan membaca, gue
juga lagi pusing
mikirin caranya, makanya
gue minta bantuan
loe! Jadi loe
mau nggak bantuin
gue? ”
“ Gimana
ya? Gue pasti
bantu kalau gue
bisa, tapi gue
harus ngelakuin apa?
Gue nggak tau
menahu soal perpustakaan”
kata Sekar yang
suaranya sudah dipelankan. “ Begini,,
gue sih ada
ide tapi loe
mau kan bantuin
gue? ”
“
Iya-iya,, gue bantu
semampu gue”
“
Loe tau kan,
siswa-siswi pada malas
ke perpustakaan karena
ruangannya yang sumpek
dan membosankan dan
juga buku-bukunya yang
sudah lama tidak
pernah di perbaharui.
Dengan kata lain
kita harus bisa
menata perpustakaan ini
menjadi lebih menarik
dan kalau bisa
buku-bukunya itu selalu
diperbaharui atau ditambah,
supaya kesannya itu
lebih menyenangkan dan
nggak cepat bosan”
“ Jadi,
gimana caranya? ”
“ Pertama,
kita harus minta
izin ke Pak
Hendri dan pengawas
perpustakaan ini, karna tanpa
izin mereka kita
nggak kan bisa
berbuat apa-apa. Kedua
kita harus bisa
meningkatkan kesadaran siswa
akan perpustakaan dan
kegiatan membaca. ”
“ Kereennnn!!!
Nggak nyangka, loe
pintar juga yah!
Pantesan aja loe
kepilih jadi ketua
osis dan bisa juara
terus”
****
Pada hari
minggu, Alinda dan
Sekar pergi ke
rumah Pak Hendri
yang merupakan kepala
sekolah mereka. Sesampainya
di sana, mereka
menjelaskan maksud dan
tujuan mereka. Setelah
menjelaskannya, mereka berdua
hanya pasrah dengan
respon kepala sekolah.
“ Gimana
pak? Bapak setuju
dengan usulan yang
kami buat?”
“ Baguss!!
Saya sangat setuju!.
Nggak nyangka bakal
ada usulan yang
seperti ini, bapak
kira kesadaran kalian
kepada perpustakaan dan
kegiatan membaca itu
tidak ada, tapi
ternyata masih ada
yang memperdulikan hal
itu. Bapak akan
mendukung kalian sepenuhnya. ”
Aku senang bangetttt,
mendengar persetujuan kepala
sekolah. Aku hampir
mati kutu kalau
saja kepala sekolah
nggak ngizinin. “ makasih
banyak pak. Tapi
bagaimana kalau pengawas
perpustakaan tidak setuju
dengan usulan ini? ” Kata
Sekar, yang dari tadi hanya
diam. “Masalah itu biar
saya yang urus,
lagian saya yakin
kalau pengawas perpustakaan
sangat setuju dengan
usulan ini.”
****
Sesampainya di
sekolah Alinda dan
Sekar diberi tahukan
oleh Pak Hendri, bahwa
sekolah kita mendapatkan
tambahan buku-buku baru
dari pemerintah karena
rokomendasi Pak Hendri
dan mereka tidak
perlu lagi memikirkan
masalah buku, tetapi
tinggal masalah penataan
ruangan perpustakaan supaya
lebih bagus dan
menarik minat siswa
untuk mengunjunginya.
Seminggu telah
berlalu, usaha Alinda dan
Sekar pun sudah
membuahkan hasil. Mereka
yang akhir-akhir ini
sering mengadakan sosialisasi
mengenai “minat baca
pelajar yang sangat
kurang”, “ pentingnya peran perpustakaan
bagi seorang pelajar ”, “
manfaat perpustakaan dan
membaca ”, “ mengapa
perpustakaan harus ada
di setiap sekolah”,
dan masih banyak
lagi. Mereka juga membuat poster
dan slogan di
sekitar sekolah, misalnya
“ ingin jadi
juara dan berprestasi?
Rajinlah membaca!”, “
perpustakaan adalah tempat
ilmu berada ” dan
sebagainya.
Akhirnya banyak
siswa yang sadar
akan pentingnya perpustakaan.
Dengan menggunakan uang
kas sekolah yang
tersisa, penataan ruang
perpustakaan akhirnya dilakukan.
Perpustakaan yang tadinya
membosankan dan ruangannya
yang kumuh akhirnya
berubah menjadi tempat
yang sangat menarik
dan bersih, sehingga
minat siswa untuk
datang ke perpustakaan
semakin meningkat. Kepala
sekolah juga memberikan
hadiah kepada siswa
yang rajin ke
perpustakaan. Lambat laun
perpustakaan menjadi tempat
yang sering dikunjungi
oleh murid-murid. Perpustakaan
yang dulunya dijuluki
tempat yang paling
angker yang ada
di sekolah, sekarang
berubah menjadi tempat
yang paling menyenangkan
untuk dikunjungi.
****
“Anak-anak, kita
akan mangikuti Olimpiade
MIPA! Untuk itu
saya akan melakukan
test untuk menentukan
siapa saja yang
akan mewakili sekolah
untuk lomba itu.”
Bu Marni mengeluarkan
soal-soal dan membagikannya
kepada anak-anak.
****
“ Lin, gue
takut nih, gue
nggak bakal lolos
testnya.” Kata Sekar.
“ Udah...!
loe tenang aja,
loe harus optimis
dong!! ”
“ Tapi
kalau gue nggak
lolos gimana? ”
“ Itu
artinya belum rejeki loe,
yang jelasnya loe
kan udah berusaha”
“ Ya
udah deh.. gue
pasrah aja ”
Keesokan harinya,
bu marni memberitahukan hasil
testnya dan juga
memberitahukan siapa saja
yang akan mewakili
sekolah untuk Olimpiade
ini. “ Berdasarkan
hasil test yang
saya sudah periksa,
Alinda, Sekar, Olive
dan Rena akan mengikuti Olimpiade
ini, karena hasil
test merekalah yang
paling tinggi. ” Mereka
berempat kaget dan
tentunya mereka sangaaatttt
senang, terutama Sekar
yang mukanya sudah
pucat bagaikan kertas.
“ tapi bu, saya
mewakili mata pelajaran
apa ? ” kata Alinda
yang sudah sangat
senang. “ Untuk
masalah mata pelajaran,
kamu akan mendapatkan
pelajaran biologi, untuk
Sekar mendapatkan pelajaran
kimia, dan untuk
Olive dan Rena
mendapatkan pelajaran matematika
dan fisika.” Setelah
itu Bu Marni
keluar dari kelas
dan menyuruh anak-anak
untuk segera istirihat.
“
Lin..!! gue lolos,
kirain gue nggak
bakal lolos, padahalkan
otak gue pas-pasan. ”
“
bukan otak loe
yang pas-pasan tapi
itu karena loe nya
yang rajin belajar”
“
bener juga, setelah
aku sadar pentingnya
belajar, aku sering
ke perpustakaan” Kata
Rena. Olive hanya bisa
tersenyum mendengar percakapan
teman-temannya itu. Dia
memang anak yang
pendiam dan tidak
suka banyak bicara.
Alinda yang
tanpa babibu lagi
segera mengajak teman-temannya untuk
pergi ke tempat
yang sering mereka
kunjungi. Sesampainya di
sana mereka mengambil
buku-buku untuk mata
pelajaran MIPA, dan
membacanya sampai jam
istirahat selasai.
Sudah dua
minggu dari sejak
Bu Marni membagikan
hasil test MIPA.
Mereka yang akhir-akhir
ini sangat sering
ke perpustakaan dan
mengikuti les tambahan
membuat mereka sangat sibuk
dan sekarang lah
saat-saat mereka mengerjakan
soal-soal Olimpiade
“Aku pun
sedikit gugup, tapi
aku berusaha untuk
tetap tenang, menjawab
soal-soal Olimpiade biologi.
Nggak nyangka soal-soal
ini sangat mudah,
hampir semua soal-soal
ini aku bisa
jawab dan sangat
yakin dengan jawabanku”.
Kata Alinda yang
sudah beranjak dari
tempat duduknya dan
menyerahkan lembar jawabannya
ke pengawas ruangan.
Tidak lama setelah
Alinda selesai Sekar
juga turut selesai
dan diikuti oleh
Olive dan Rena.
****
“
Alinda, Sekar, Olive!!
Cepetan dikit dong!
Kita dipanggil kepala
sekolah nih. ”
Mereka berempat melangkahkan
kakinya ke ruang
kepala sekolah. Sesampainya
di sana, mereka
diberitahukan bahwa mereka
menang dalam Olimpiade.
Alinda, Sekar, dan
Olive mendapatkan juara
1 dan akan
mewakili sekolah ke
tingkat provinsi, kecuali
Rena karena dia
mendapatkan juara 2.
“
Ren! Loe jangan
sedih yah.! Juara
dua juga keren
kok!”
“
gue nggak papa
kok! Gue nggak
sedih, justru ini
bisa jadi pengalaman
buat gue. Gue
juga bangga dapet
juara dua. Selamat
yah, atas keberhasilan
kalian.”
****
Olimpiade untuk
tingkat provinsi dilaksanakan.
Mereka bertiga akhirnya
masuk ke ruangan
mereka masing-masing. Setelah selesai
mereka pun pulang
dan sudah tidak
sabaran untuk menunggu
hasilnya.
****
Pada hari
senin, upacara bendera
di lapangan sekolah
SMA Harapan sedang
berlangsung. Setelah kepala
sekolah memberikan amanat
dia juga tidak
lupa menyampaikan pemenang
lomba Olimpiade MIPA,
dan pemenangnya adalah
Alinda Helmy yang
mendapatkan juara pertama.
Alinda pun mewakili
sekolah ke tingkat
nasional. Sekar Hamdani dan
Olive Natasya Putri
mendapatkan juara 2
dan 3. Para
peserta upacara langsung
bertepuk tangan setelah
mendengarkan hasil pemenangnya. “ Gilaaa!!
Ini pertama kalinya
ada siswa yang menang
Olimpiade sampai tingkat
nasional.” Kata salah
seorang peserta upacara.
“
Loe hebat banget
Lin!! Selamat yah.”
Kata Sekar dengan
wajah yang takjub”
“ iya,
selamat ya Lin!!” Alinda
tidak henti-hentinya mendapat
ucapan selamat dari
teman-temannya.
****
Alinda akhir-akhir
ini sering sekali
pergi ke perpustakaan,
baik perpustakaan yang
ada di sekolahnya
maupun perpustakaan yang
ada di dekat
rumahnya, dia juga
sangat sering belajar
dan membaca untuk
persiapan olimpiade biologinya. “
apa ini bener-bener
nyata? Aku nggak
nyangka bisa menang
dan mewakili sekolah
ke tingkat nasional!!.
****
Yah,, hari
ini memang aku
olimpiade, di sinilah
aku diruangan yang
tenang dengan soal-soal
yang sebentar lagi
selesai ku kerjakan,
setelah tinggal beberapa
menit lagi waktunya
habis aku menyerahkan
lembar jawabanku ke
pengawas ruangan.
****
Dua minggu
kemudian, Pak Hendri
memberitahukan pada Alinda,
bahwa dia menang
dalam Olimpiadenya itu. “ Selamat
yah Lin! Lagi-lagi
kamu menang ” kata
Pak Hendri dengan
muka yang sangat
bangga. “ Saya menang
Pak? Memangnya saya
juara berapa?” Aku
sangat kaget mendengar
informasi dari Pak Hendri. “
kamu mendapat juara
1 lagi, bapak
bangga sama kamu
dan semoga saja
kamu bisa meningkatkan
lagi prestasi mu
ini. ”
Aku tidak
tahu mau bicara
apa lagi untuk
dapat mengekspresikan perasaanku
saat ini, yang
jelas aku sangaattttt
senaaannggg!! Ini pasti
gara-gara perpustakaan, aku
bener-bener cinta perpustakaaaan!!.
****
SMA Harapan
yang dulu sering
diremehkan dan tidak
dipedulikan sekarang tidak
lagi dianggap remeh
oleh sekolah-sekolah lain
mengingat begitu banyak
prestasi yang sudah
diraihnya dan justru
menjadi pesaing yang
sangat tangguh dalam
lomba apapun. SMA
Harapan juga mendapat
DAK dari pemerintah
untuk menambah fasilitas-fasiltas belajar
dan memperbaiki ruangan-ruangan yang
sudah rusak. Setahun
telah berlalu sejak
Alinda memenangkan Olimpiade
senasional yang membawa
nama baik sekolah
dan provinsinya dan
setelah Ujian Nasional,
dia juga mendapatkan
beasiswa ke Jepang
dari pemerintah karena
nilai UN nya yang
sangat tinggi. Satu hal
alasan Alinda bisa
sukses, tak lain
dan tak bukan
adalah rajinnya Alinda
pergi ke perpustakaan
dan membaca, karena
membaca itu dapat
menambah ilmu pengetahuan
dan wawasan yang
dapat mengantarkan kita
menuju pintu gerbang
kesuksesan, dan betapa
pentingnya peran perpustakaan
yang sering tidak
dipedulikan oleh sebagian
pelajar. Untuk itu
tingkatkanlah kesadaran akan
pentingnya membaca agar
negara kita bisa
menjadi negara yang
maju dan berkualitas.
THE END.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar